head

Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Islamic Economic’s Annual Family Gathering

     

         Ketika semester baru di mulai, berbagai jurusan dari kampus kami berlomba-lomba mengadakan orientasi jurusan, demi memperkenalkan kampus kami dan jurusan kami masing-masing. Ada yang memulainya dengan mengadakan mabit, lomba perencanaan usaha, olahraga bersama, ataupun mengadakan aksi ramah-tamah di luar kampus. Kesemuanya itu dilaksanakan tepat seminggu setelah mahasiswa baru masuk ke kampus kami. Namun, lain halnya dengan jurusan kami, Ilmu Ekonomi Islam. Entah kami yang terlambat, atau memang sudah menjadi kebiasaan kami, orientasi jurusan mahasiswa baru program pendidikan Ilmu Ekonomi Islam selalu dilaksanakan setelah jurusan-jurusan lain selesai menunaikannya. Kegiatan ini biasa kami sebut Family Gathering.

Mengapa family gathering, bukannya orientasi jurusan? Pertama, jurusan kami tidak memiliki banyak massa seperti halnya jurusan-jurusan lain, sehingga lebih mudah dan bermakna bagi kami jika yang kami lakukan adalah berkumpul bersama teman-teman satu jurusan lain, dimulai dari mahasiswa tingkat dua hingga mahasiswa tingkat akhir. Kedua, hal ini sangat memudahkan kami untukmengenal satu sama lain, karena selain jumlah kami yang sedikit, juga karena konsep kekeluargaan yang kami usung ini sangat efektif untuk mempererat tali persaudaraan kami. Ketiga, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tujuan family gathering ini adalah to gather everyone into the same circle, so each of us will feel nothing but proud to be who we are now.

Dalam acara family gathering ini, kami melakukan banyak kegiatan seperti mengadakan seminar tentang jurusan kami secara terperinci, tracking atau hiking di sarana yang ada, memainkan bermacam games yang bukan hanya menyegarkan badan tapi juga pikiran, belajar mengenal satu sama lain lebih mendalam bukan hanya sekedar tahu nama saja, dan masih banyak lagi kegiatan seru lainnya. Seringnya, dalam acara family gathering ini kami mengobrol dengan senior dan teman yang sebelumnya belum terlalu dekat untuk menanyakan hal-hal mendasar semacam tugas-tugas yang sering dosen berikan kepada jurusan kami ini.
Berbicara tentang family gathering tahunan prodi Ilmu Ekonomi Islam, tahun ini kami mengusung tema “Where life begins and love never ends.” Tema tersebut bermakna bahwa di prodi IlmuEkonomi Islam ini, babak baru kehidupan para mahasiswa tingkat dua akansegera di mulai. Masing-masing dari mereka (dan kami) akan mulai disibukkan dengan berbagai macam kegiatan-kegiatan baik internal maupun eksternal kampus. Tapi, apapun itu jenis kegiatannya, besar harapan kami, semua bagian prodi ini tak akan melupakan kami sebagai tempat untuk pulang, dimana tali silaturrahim tak akan berhenti apalagi terputus. Itulah yang ingin kami tekankan dalam setiap family gathering yang kami selenggarakan. Tak peduli darimana saja asal kami, siapa saja teman kami, kami tetap bersatu di satu dalam naungan, prodi Ilmu Ekonomi Islam STEI Tazkia.

So, here it is, where we welcome you to join our family.

Welcome, freshmen.

T-smart, HEBAT! T-smart, HEBAT! T-smart, HEBAT, HEBAT, HEBAT!!


Oleh : Khairani Maulida / IEI 13

AKU DAN BOLU – Kesabaran

AKU DAN BOLU – Kesabaran

Published      27/12/2014
Oleh : Mega Tria Rizki Luik

Terkadang manusia dalam mewujudkan mimpinya(visi) ia lupa akan kenikmatan berproses. Ambisi untuk segera berdiri penuh kemenangan di puncak kesuksesan membuat ia memangkas waktu agar langkah terasa semakin pendek. Proses hanya sekedar proses yang ia cicipi begitu saja tanpa sebuah kenikmatan. Ketergesaan  memang sifat dasar manusia, sehingga Allah mengujinya dengan sifat tersebut untuk melihat siapa yang paling sabar. Ketergesaan  berakhir kehancuran sedangkan kesabaran berakhir keberuntungan.
Semua bahan sudah aku siapkan, resep bolu kukus yang baru aku search sudah stand by menjadi guide-ku hari ini. Step by step aku selesaikan dari me-mix telur dan gula, memasukan tepung terigu, baking powder, vanili, air soda. Setelah semuanya sudah tercampur aku pun memisahkan adonan menjadi tiga bagian dengan warna yang berbeda. Selanjutnya mulai ku tuangkan dalam cetakan dan siap untuk dikukus. Setengah jam berlalu dan kue-kue ku belum ana yang merekah. Hmm… aku mulai penasaran. Bertanya-tanya, padahal semua langkah telah aku ikuti dengan benar menurutku. Dan akhirnya setelah lebih dari sejam, 14 kue ku tidak ada yng merekah. Ada rasa kecewa dalam benakku. Yang pertama karena waktuku terbuang sia-sia dan yang kedua biaya untuk membuat kue pun hilang begitu saja, mana akhir bulan lagi. Yasudah. Terus bertanya, apa yang salah dengan proses yang telah aku lakukan. Menurut hematku semua telah ku lakukan dengan benar, sesuai petunjuk resep yang ku googling ketika ingin membuat bolu kukus. Akhirnya aku bertekad untuk mengulanginya 2 hari kemudian.
Sebelum hari H, aku coba bertanya ke kakak dan temanku, mereka sedikit menanyakan bagaiman proses yang sudah aku lakukan dalam setiap tahapan, hmm ternyata memang ada yang kurang, bukan bahannya ataupun alatnya, namun KESABARAN. Saat hari H, aku mulai menyiapkan bahan-bahan dengan membeli di supermarket terdekat, Bismillah setelah makan siang mulai ku siapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam membuat bolu. Mixer, timbangan, baskom, sendok, piring, tepung terigu, gula, telur vanili, baking powder, SP, air soda, pewarna, cetakan, tidak lupa resep terbaru. Kali ini tidak aku ijinkan ketergesaan menggodaku, setiap tahapan ku nikmati dengan penuh kesabaran dan ketelitian. Alhamdulillah, waktu yang ku habiskan lebih lama dibandingan dua hari yang lalu, setelah dituangkan kedalam cetakan, ku atur waktu untuk mengukus adonan yang sudah berada dalam cetakan tersebut hanya 10 menit. Dan buah dari menikmati proses dengan kesabaran adalah 28 buah bolu kukus merekah dengan sangat indah, perfecto !! subhanallah plus rasa yang sangat nikmat menurutku. Dengan takaran adonan yang sama terdapat selisih 14 buah dengan hasil dua hari lalu yang aku lalui tanpa menikmati proses dengan kesabaran.
Setiap manusia pasti memiliki harapan dan cita-cita yang ia catat sebagai visi hidupnya. Untuk mencapainya dibutuhkan misi yang sesuai dengan visi yang diharapkan. Misi tidak akan mampu mencapai visi jika ia melupakan satu hal, yakni KESABARAN. Allah selalu mengaitkan segala sesuatu yang baik dengan orang-orang yang pandai bersabar. Kemuliaan serta kesuksesan yang sangat besar bagi mereka yang menikmati proses kehidupan ini dengan bersabar. Menjadi sebuah keniscayaan  Allah melatih para pemenang kehidupan dengan kegagalan, hambatan, rintangan , kesedihan, ketakutan  dan segala jenis masalah. Hal ini antara lain untuk melihat siapa yangpaling  bersabar dan tetap yakin akan JANJI ALLAH bagi mereka yang mampu menikmati proses kehidupan dengan KESABARAN. Percayalah jika engkau ingin memenangkan kehidupan maka bergeraklah bersama ALLAH, karena DIA telah berjani INNALLAHA MA’ASSHOOBIRRIIN.. Sebagaimana indahnya rekahan bolu bersama kelezatannya, begitupun akhir dari kesabaran, memenagkan kehidupan bersama ALLAH. (MTRL)

Baranang siang, 26 sep 11

Dini pagi sabtu lalu tepatnya tanggal 24 september 2011, kosan teman sekelas saya yang berada di Desa Cipambuan Sentul City, dibobol maling. Kejadian itu sangat membuat kami tersentak kaget. Betapa tidak, si maling berhasil menggondol 3 buah laptop dan 4 buah telpon seluler dalam satu waktu dengan mencongkel jendela yang tidak dilindungi teralis besi disisi dalamnya. Tak ada satupun warga yang mengetahui kejadian itu, bahkan sang korban pun tak sadarkan diri dalam tidurnya ketika pencuri mengambil barang yang berada di dekatnya. Spontan paginya, sang korban kaget dan melapor kepada pak RT dan pihak yang berwenang (polisi) atas kejadian itu.

Kejadian ini memang bukan hanya terjadi kali itu saja. Sebut saja kawasan sekitarnya seperti Desa Citaringgul, Perumahan Griya Alam, Babakan Madang, Cadas Ngampar telah mengalami berkali-kali hal serupa. Sang korban juga bermacam macam, dari penduduk setempat maupun mereka yang mengontrak tempat tinggal seperti mahasiswa dan karyawan bangunan. Bentuk kriminallitasnya pun beragam, dari pencurian barang elektronik; HP; laptop; Monitor LCD, hingga kendaraan bermotor. Meski begitu, hal ini belum dianggap serius oleh mereka yang berwenang (kepolisian) di daerah setempat. Hal itu terbukti dengan entengnya mereka menjawab :”Ya makanya hati-hati mas di daerah sini, barang-barang dijaga sendiri. Yang melakukan memang merupakan sindikat”. (terkesan tak menjawab hak-hak sang korban dan permasalahan).

Jika di telusuri lebih lanjut, penyebab kriminalitas itu adalah disparitas kehidupan (hal ekonomi) dan kesenjangan sosial antara warga sekitar dan perumahan yang begitu mencolok. Hal ini mendukung teorinya J.H Boeke tentang dualisme kehidupan masyarakat. Lalu apa hubungannya.?

Begini penjelasannya. Sebelum menjadi perumahan, daerah Sentul City dahulu merupakan desa warga asli setempat atau pribumi. Lalu datanglah Developer yang ingin membangun perumahan di kawasan itu. Dalam proses pembebasan lahannya, mereka menggunakan pemaksaan dengan menggusur perumahan warga di daerah itu tanpa unggah-ungguh atau kulonuwun (Jawa : Permisi). Apa boleh buat, warga hanya bisa pasrah dan berharap dapat mendapat sebagian rembesan dan kue ekonomi (trickle down effect theory) dari pembangunan yang akan melibatkan mereka khususnya dalam hal labor.      

Pembangunan pun berlanjut, secara bertahap Sentul city menjadi kawasan perkotaan baru dengan perumahan yang mewah dan fasilitas leisure nya yang serba wah. Pembangunannya meningkat pesat dengan dana investor yang lambat laun menjelma menjadi mal, hotel, taman wisata dll. Para konsumen pun berdatangan dari dalam dan luar Jabodetabek. Mereka membeli kaplingan rumah yang harganya ratusan juta hingga miliaran rupiah. Tentu mereka konglomerat yang gampang dalam mencari duit, berbeda 180 derajat dengan warga sekitar yang kolot dan kaum urban yang menjadi labor dalam pembangunan fasilitas leisure tsb.

Keadaan ekonomi yang timpang antara pemilik perumahan dan warga sekitar itu menimbulkan rasa iri dan dengki di hati para pribumi. Mereka lalu melakukan hal-hal yang mereka anggap perlu sebagai obat penyakit sosial tersebut dan harga atas penggusuran tanah warga terdahulu. Maka tak heran jika sering terjadi kriminalitas sekitar daerah itu yang jika ditanya pada pelakunya mereka akan menjawab karena kepepet lah, buat isi perut lah, buat kualitas hidup lebih baik lah, dan sebagainya. Karena itu lah mengapa dalam Islam ada istilah Zakat, Infaq dan Shadaqah, salah satunya adalah untuk distribusi pendapatan dan agar hilang penyakit sosial antara si kaya dan si miskin dan juga untuk pembersihan harta dan hati. Wallahu a’lam..

by : hakimsan